Kawan Lama…. Benteng Wirobrajan…
Tembang : Lihat (SORE) dengan hanya gitar akustic di dalamnya (dapat didownload di blog ini juga…)
Fade in :
setasiun Tugu yang saat itu masih belum rampung perbaikannya setelah mengalami penuaan dan tercabik pantulan-pantulan peluru dan mortir, dengan segala kesederhanaannya mencoba menopang hiruk pikuk Jogjakarta kala itu, tahun 1951. Seorang porter menawarkan diri pada seorang tuan yang menenteng kopor dengan agak keberatan. Sejajar lumayan rapi himpunan kursi tunggu yang masih terbuat dari kayu jati yang coklat pekat.
Latar: di ujung depan deretan kursi tunggu, pagi hari yang hangat
Kisah:
Seorang pemuda yang tlah terpanggil tuan sedang duduk memegangi kopor besar dan roti tawar bermerk Melati Jaya Abadi . Dengan tampang yang lumayan dan perawakan tinggi besar dengan mata yang lumayan tajam tersenyum dengan senyumnya yang menawan, kepada seorang anak yang sedang asyik bermain dengan kereta jeruk balinya yang terseok–seok, tak menghiraukan tarikan gandengan ibunya yang sedang terburu-buru. Anak kecil yang terlalu asyik sendiri dan hanya membuang lidah kepada seorang tuan. Senyum seorang tuan yang sempat tertahan jadi merekah menertawakan dirinya, anak itu, dan keadaan. Ya, seorang yang punya nama tuan Windu.
Fade out: sepasang mata yang lumayan girang walau pemiliknya sedang terburu waktu. Keringat yang mengucur agak banyak menjadi tambahan pemandangan Jalan Kota Gedhe yang kala itu masih di batasi hanya sedikit gedung yang terpinggiri sawah dan hutan bambu. Melewati Pasar Kota Gedhe yang ramai dengan gadis-gadis setengah baya yang lumayan memukau dan sederhana sedang menawar dengan lumayan menggebunya pada seorang simbok yang tak kalah menggebunya menawarkan dagangannya. Seorang pemuda yang juga telah terpanggil tuan, melesat dengan sepeda unta merk Alibaba rakitan Tangerang, tak menghiraukan teriakan fajar yang jelas sangat terlambat baginya.
Latar: di Perempatan Kota Gedhe Utara yang baru saja mendapat lampu merah yang dianggap modern kala itu.
Kisah:
Tuan itu mengusap keringat dengan agak memaksa. memandangi setiap pengendara sepeda yang ada di sekelilingnya. wajahnya yang tampan tapi terlihat aneh karna tingkahnya yang agak tak biasa, sempat menarik mata seorang pengendara wanita yang kelewat cantik dan putih khas nona-nona dari Kota Gedhe. Dengan kegugupan berlebih, tuan ini hanya bisa berkata-kata dalam hati dan hanya bisa tertunduk dengan harapan berlebih. Nona yang kelewat cantik ini hanya tersenyum sendiri mengawasi tingkah aneh tuan itu. Dasar nasib sedang tak berpihak, dari keterlambatan keberangkatan menuju stasiun Tugu sampi peristiwa ini, dia di kagetkan teriakan dan klakson dari motor-motor milik mandor kebun tebu Madukismo menyuruhnya melaju karna lampu sudah hijau dan dia hanya salah tingkah tertunduk menghalangi bapak-bapak yang akan menuju Utara, nona itupun tlah menghilang sebelum ia sempat menanyakan sekedar nama dan akan kemanakah nona itu. Ya, tuan yang agak aneh ini adalah Johan.
Fade in:
Sepasang sepatu yang nampaknya sangat cantik melindungi kaki seorang nona yang berdiri sendu menunggu sosok perkasa Sang Argobinangun… Lambaian tanganya yang tak bias diam sering jadi pratanda. Yang senyumnya slalu merona, centil membuat wajahnya semakin terlihat manis…
Latar: di stasiun Tugu Sendu… di depan kantor huru-hara setasion. Di depan pintu toilet yang lumayan modern.
Kisah:
Selalu di buka dengan senyum tak bertuan lajunya… dengan perawakan lumayan kecilnya melangkah lantun keluar dari toilet yang masih di tulis dengan bahasa Belanda. Langkahnya menuju barisan kursi-kursi riuh yang sangat penuh dengan antrian para calon penumpang Argobinangun. Untunglah ada seorang tuan yang tampan mempersilakan dia duduk. Dan sambil melintas antara beningny awajah si tuan… terngiang pesan Ayahnya.. “nduk… le mu lungo ati2 yo… ati2 nek ono le nawan2ni ombe, lungguan, karcis, ati2 di gendam”…. (yg artinya “nak…. Kalau kamu bepergian hati2… dengan yang suka menawarkan minum, tepat duduk, karcis, hati2 di hipnotis…) begitulah kiranya. Senyumnya terkapar lepas… berbisik lirih dalam naunganya..”wah kalau se tampan ini… sya rela diapa2kan…”. Wah dasar sang nona centil… Ya ya ya Nona Tiny namanya… anggota Bulan Sabit Merah Indonesia…